INFOMUARAENIM.COM – Harapan warga di ataran perkebunan Betungan, Desa Muara Tenang, Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT), kembali diuji.
Setelah rela mengorbankan lahan dan tanaman produktif demi pembangunan jalan penghubung Betungan–Batu Tiking, kini yang tersisa hanyalah kekecewaan mendalam.
Jalan yang digadang-gadang menjadi akses vital antar kecamatan itu justru mangkrak, bahkan mulai ditelan semak belukar.Pembangunan jalan tersebut sejatinya telah dirintis sejak 2021 melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).
Harapan warga sempat tumbuh ketika pada Tahun Anggaran 2024 dan 2025 proyek ini berlanjut dengan peningkatan konstruksi beton. Namun, harapan itu kembali pupus.
Pada Tahun Anggaran 2026, proyek tersebut tak lagi masuk dalam skala prioritas pembangunan.
Bagi masyarakat, ini bukan sekadar proyek yang tertunda. Ini adalah soal kepercayaan yang dipertaruhkan—antara janji dan kenyataan yang tak kunjung sejalan.
Rokmah, salah satu pemilik lahan, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ia bersama puluhan warga lainnya mengaku telah merelakan kebun mereka digusur tanpa menuntut ganti rugi, semata karena percaya pada komitmen pemerintah untuk membangun jalan demi kepentingan umum.
“Kami ikhlas waktu itu karena yakin jalan ini akan dibangun. Katanya untuk membuka akses dan mendorong pengembangan wilayah. Tapi sekarang malah dibiarkan begitu saja,” ujarnya dengan nada getir.
Ia menegaskan, apabila tidak ada kejelasan dalam waktu dekat, warga siap menempuh jalur hukum.Gugatan terhadap Pemerintah Kabupaten Muara Enim menjadi langkah yang mulai dipertimbangkan sebagai bentuk tuntutan atas kepastian dan keadilan.
Ancaman itu berangkat dari kerugian nyata yang telah dialami. Berdasarkan data di lapangan, sedikitnya 70 bidang kebun terdampak penggusuran. Setiap bidang rata-rata kehilangan sekitar 500 batang kopi produktif—tanaman yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.
Fachrozi, pemilik lahan lainnya, menyebut kondisi ini sebagai ironi pembangunan.
“Setiap kebun bisa menghasilkan sekitar satu pikul atau 100 kilogram biji kopi per tahun perkebun yang kena gusur tersebut.
Kalau dikalikan puluhan kebun, kerugiannya sangat besar. Ini bukan sekadar angka, tapi sumber hidup kami,” tegasnya.
Lebih jauh, warga mengaku trauma dengan kejadian serupa di masa lalu.
Penggusuran lahan di ataran Matang Ubae pada 1996/1997 hingga kini tak pernah berujung pembangunan.
Begitu pula proyek jalan tembus Pulau Panggung–Muara Danau yang hanya menyisakan lahan terbuka tanpa realisasi.
Kekhawatiran pun menguat—Betungan jangan sampai menjadi catatan kegagalan berikutnya.
“Kami tidak ingin sejarah terulang. Jangan sampai lahan sudah hilang, tapi manfaatnya tak pernah kami rasakan,” kata Fachrozi.
Kepala Desa Muara Tenang, Ruliansyah, membenarkan bahwa pembangunan jalan Betungan–Batu Tiking belum masuk dalam pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2026. Padahal, menurutnya, proyek tersebut merupakan usulan prioritas dari pemerintah desa.
“Dari sejumlah usulan yang diajukan, yang disetujui justru pembangunan jalan usaha tani dan dam di beberapa titik. Sementara jalan ini belum terealisasi,” jelasnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait arah kebijakan pembangunan daerah. Di satu sisi, masyarakat diminta berkorban demi kepentingan umum.
Namun di sisi lain, kepastian atas janji pembangunan justru tak kunjung diwujudkan.Jalan Betungan–Batu Tiking sejatinya bukan sekadar proyek infrastruktur.
Ia adalah harapan untuk membuka keterisolasian wilayah, mempercepat arus ekonomi, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jika terus dibiarkan mangkrak, yang lahir bukan hanya kerugian material, tetapi juga krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah.Kini, bola ada di tangan para pengambil kebijakan.Warga telah menunjukkan keikhlasan dan pengorbanan mereka.
Pertanyaannya, apakah pemerintah akan menjawab dengan tindakan nyata, atau kembali membiarkan harapan itu terkubur bersama waktu ?.( jj.red)







